MEMBUMIKAN AL QURAN DALAM KONTEKS KEPEMIMPINAN bag muqodimah
sebagai manusia yang mengakui kebradaan tuhan dalam kehidupannya dan menjadikan agama sebagai wadah untuk bernaung dalam kaitannya berkeyakinan tentu menjadi suatu keharusan bagi pemeluknya menjadikan kitab suci sebagai pedoman dan sumber dari segala sumber rujukan dalam menapaki kehidupan ini.
islam yang kemudian pemeluknya disebut muslim begitu juga tentunya dalam menyikapi kehidupannya. orang islam yang meyakini al quran dan as sunnah sebagai sumber pedoman dalam kehidupan ini menjadi keharusan bagi mereka untuk menjadikan rujukan atas semua hal yang berkaitan dengan kehidupannya.
manusia sebgai kholifatullah di muka bumi ini, menjadikan posisi yang sangat unggul di antara ciptaan tuhan yang lain di satu sisi, akan tetapi juga menjadi beban tanggung jawab yang sangat beasr untuk bisa mengenbannya.
posisi vital sebagai seorang kholifah atau pemimpin di muka bumi ini , tentu tidak akan bisa berjalan dengan maksimal dan optimal tanpa adanya pedoman atau petunjuka dari Tuhan sebagai Dzat pemberi amanah. walaupun manusia dibekalai dengan potensi akal untuk bisa menuntun dalam menemukan kebenaran di muka bumi ini, akan tetapi tanpa bimbingan dan panduan dari Tuhan, maka manusai akan berpeluang untuk menuju kesesatan. dengan bimbingan dan panduan wahyu, maka manusia akan dapat melaksanakan tugas ke khalifahannya dengan baik dan sempurna.
di dasari pada pemikiran demikian maka sudah selayaknya bagi kita untuk mengelaborasi secara mendalam terhadap firman tuhan yang sudah terbukukan di dunia ini dalam bentuk Al Quran dan As Sunah.
al quran dan as Sunah sebagai sumber dari segala sumbver rujukan dapat di dekati melalui berbagai dimensi dan berbagao sudut pandang sesuai dengan kebutuhan yang di butuhkan oleh manusia.
dalam surat alfatihah yang terdiri 7 ayat ini didahului dengan taawud yang kalau dicermati secara mendalam tersirat nilai-nilai kepemimpinan di dalamnya. pada bacaan taawudh tersebut jelas sekali tersirat bagaimana bagi seorang pemimpin di dalam melaksanakan tugas kepemimpinan haru mendahului segala aktivitasnya dengan melakukan analisis problematika (resiko) yang akan terjadi dalam melaksanakan kepemimpinananya.
selain itu, sebagai langkah awal bagi seorang pemimpin yang harus dilakukan adalah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi, baik secara fisik maupun non fisik dan juga yng perlu dilakukan oleh seorang pemimpin adalah mengembalikan semua hal terkait berbagai kemungkinan yang terjadi kepada Allah SWT sebagai sandaran utama dalam menjalani kepemimponannya.
syetan yang termakstub di dalam taawudza tersebut tentu tidak sekedar di maknai secara yekstual semata, sehingga menjadi perwujudan makhluk yang berbentuk materi syetan, akan tetapi lebih dari pada itu syetan yang terkandung dalam taawudz tersebut dimakknai segala hal yang dapat mengakibatkan gagalnya suatu kepemimpinan.
dari yaawudz tersebut maka dapat dijadikan sumber inspirasi dan landasan bagi seorang pemimpina bahwa semua hal pasti berpeluang untuk mendapatkan gangguan dan godaan baik gangguan yang bersifat materi maupuin non materi, sehingga semuanya harus di pasrahkan kepada Allah SWT.
islam yang kemudian pemeluknya disebut muslim begitu juga tentunya dalam menyikapi kehidupannya. orang islam yang meyakini al quran dan as sunnah sebagai sumber pedoman dalam kehidupan ini menjadi keharusan bagi mereka untuk menjadikan rujukan atas semua hal yang berkaitan dengan kehidupannya.
manusia sebgai kholifatullah di muka bumi ini, menjadikan posisi yang sangat unggul di antara ciptaan tuhan yang lain di satu sisi, akan tetapi juga menjadi beban tanggung jawab yang sangat beasr untuk bisa mengenbannya.
posisi vital sebagai seorang kholifah atau pemimpin di muka bumi ini , tentu tidak akan bisa berjalan dengan maksimal dan optimal tanpa adanya pedoman atau petunjuka dari Tuhan sebagai Dzat pemberi amanah. walaupun manusia dibekalai dengan potensi akal untuk bisa menuntun dalam menemukan kebenaran di muka bumi ini, akan tetapi tanpa bimbingan dan panduan dari Tuhan, maka manusai akan berpeluang untuk menuju kesesatan. dengan bimbingan dan panduan wahyu, maka manusia akan dapat melaksanakan tugas ke khalifahannya dengan baik dan sempurna.
di dasari pada pemikiran demikian maka sudah selayaknya bagi kita untuk mengelaborasi secara mendalam terhadap firman tuhan yang sudah terbukukan di dunia ini dalam bentuk Al Quran dan As Sunah.
al quran dan as Sunah sebagai sumber dari segala sumbver rujukan dapat di dekati melalui berbagai dimensi dan berbagao sudut pandang sesuai dengan kebutuhan yang di butuhkan oleh manusia.
dalam surat alfatihah yang terdiri 7 ayat ini didahului dengan taawud yang kalau dicermati secara mendalam tersirat nilai-nilai kepemimpinan di dalamnya. pada bacaan taawudh tersebut jelas sekali tersirat bagaimana bagi seorang pemimpin di dalam melaksanakan tugas kepemimpinan haru mendahului segala aktivitasnya dengan melakukan analisis problematika (resiko) yang akan terjadi dalam melaksanakan kepemimpinananya.
selain itu, sebagai langkah awal bagi seorang pemimpin yang harus dilakukan adalah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi, baik secara fisik maupun non fisik dan juga yng perlu dilakukan oleh seorang pemimpin adalah mengembalikan semua hal terkait berbagai kemungkinan yang terjadi kepada Allah SWT sebagai sandaran utama dalam menjalani kepemimponannya.
syetan yang termakstub di dalam taawudza tersebut tentu tidak sekedar di maknai secara yekstual semata, sehingga menjadi perwujudan makhluk yang berbentuk materi syetan, akan tetapi lebih dari pada itu syetan yang terkandung dalam taawudz tersebut dimakknai segala hal yang dapat mengakibatkan gagalnya suatu kepemimpinan.
dari yaawudz tersebut maka dapat dijadikan sumber inspirasi dan landasan bagi seorang pemimpina bahwa semua hal pasti berpeluang untuk mendapatkan gangguan dan godaan baik gangguan yang bersifat materi maupuin non materi, sehingga semuanya harus di pasrahkan kepada Allah SWT.
Komentar
Posting Komentar