MEMBUMIKAN AL QURAN DALAM KONTEKS KEPEMIMPINAN bag 1

Status pemimpin yang di qambanhkan oleh Allah tentunya bukan sekedar label semata, akan tetapi ada rahasia besqar yang tersirat di dalmnya. manusia yang di bekali dengan berbagai potensi salah satunya adalah potensi akal, di harapkan mampu mebawa risalag ketauhitan, sekaligus juga menegakkan serta menjalankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya pada kehidupan sehari-hari. pa
pada bagian pertama di ungkapkan bahwa sebagai pemimpin , maka harus mempersiapakan segala sesuatu yang akan berpeluang menjadi penghalang  di masa yang akan datang. kesiapan itu merupakan suatu keharusan bagi manusia untuk mengemban amanh kekhalifahan tersebut. kemudian pada bagian ini akan di paparkan bagaimana sikapa seorang pemimpin yang seharusnya dia miliki dalam surat ala fatihah ayat 1.
pada ayat tersdebut tergambara bagaimana seorang poemimpin yang tugas pokoknya adalah harus mampu mempengaruhi seseorang agar dapat secara maksimal menggunakan potensinya dalam rangka mencapai tujuan yang telah dirumuskan, pemimpin harus memiliki sikap optimisme dan kasih sayang. ssikap optimisme itu tersirat pada kalimat bismillah yang artinya dengan menyebut nama aL

llah.  kalimat ini memang sangat sederhana dan mudah untuk di ucapkan, akan tetapi kalau kita mau memkanai dan mengelaborasi secara lebih mendalam lagi, maka kita seolah dibawa dalam samudra kekuasaan dan kekuatan yang supra transenden di bawah alam sadar kita. kalimat ini menunkjukkan bagaimana sikap seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.
Pemimpin yang memulai tugas kepemimpinannya dengan menyandarkasn segala urusannya kepada
secara tekstual kalimat tersebut bermakna yang maha pengasih dan maha penyayang.
ddalam konteks kepemimpinan, tentu sifat kasih sayang itu merupakan suatu kemutlakan bagi pemimpin. kasih sayang yang harus tertanam pada diri seorang pemuimpin harus benar-benar muncul dari hati sanubarinya, sehingga apapun yang dia lakukan penuh ketulusan dan keikhlasan.
Sifat kasih sayang ini harus termanifestasikan dalam diri seorang pemimpin secara spontanitas, yang pada akhirnya akan menjadi caracter atau watak. apabila internalisasi sifat kasih sayang ini betul betul dapat mnenancap pada diri seorang pemimpin, maka hal ini akan menkadi sikap yang secara otomatis akan terpaparkan dalam perilaku sehari-hari pememimpin tersebut.
Sikap kasih sayang yang harus ada pada pemimpin tidak hanya bersifat top down atau dari atas kebawah, akan tetapi juga harus button up atau dari atas kebagwah. amaksudnya adalah, bagaimana, kasiha sayang ini terpancar dari seorang pemimpin dimanapun dan kepada siapapun, tanpa adanya pilih-pilih dan ketidak samaan perlakuaan anatara sati dengan yang lain.
maka, dapat di pahami pafa ayat ini, bagaiman sikap seorang pemimpin adalah optimisme dan kasih sayang. maka dari itu bagaimana seorang pemimpin bisa betul-betul memiliki otimisme dan kasih sayang? tugas kita semua untuk merumuskan dan membangunnya...
wassalama 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBUMIKAN AL QURAN DALAM KONTEKS KEPEMIMPINAN bag muqodimah

MEMBUMIKAN AL QURAN DALAM KONTEKS KEPEMIMPINAN Bag 6